KAB. BANDUNG, Sinar Surya News* – Pekerjaan rekonstruksi Jalan Kopo–Bihbul hingga Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung menjadi sorotan. Secara visual hasil hotmix terlihat kasar, tidak seragam, dan memiliki rongga. Kondisinya berbeda jauh dengan pekerjaan di Jalan Raya Soreang yang dikerjakan siang hari dan tampak lebih rapi.
Proyek ini merupakan pekerjaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan nilai kontrak Rp11.394.632.656,42 yang bersumber dari APBD Provinsi Jabar Tahun Anggaran 2026.
Pekerjaan berada di bawah pengawasan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang DBMPR Provinsi Jabar melalui UPTD Wilayah Pelayanan III. Pelaksananya CV. Nawasena Parikesit Perkasa. Konsultan supervisi PT. Secon Dwitunggal Putra KSO bersama PT. Nusa Karya Pembangunan.
DUGAAN TEKNIS: KERJA MALAM HARI JADI SOROTAN
Ketua DPP LSM Wadah Generasi Masyarakat Peduli Aspirasi WGMPA, Yansen Nababan, meminta pelaksana dan pengawas memberikan penjelasan teknis terkait kondisi di lapangan.
“Kami tidak ingin langsung menyimpulkan pekerjaan ini bermasalah hanya berdasarkan foto. Tetapi kondisi permukaan yang kasar, agregat menonjol dan terlihat memiliki rongga tentu menimbulkan pertanyaan. Apalagi pekerjaan dilakukan malam hari. Ini harus dijelaskan secara teknis oleh pelaksana dan pengawas,” ujar Yansen kepada wartawan, Senin 11/08/2026.
Secara teknis, permukaan hotmix kasar dan berongga bisa disebabkan beberapa faktor. Antara lain suhu campuran turun sebelum pemadatan selesai, pemadatan kurang optimal, jumlah lintasan roller, waktu penggilasan, segregasi agregat, gradasi material, hingga komposisi campuran.
Faktor pengangkutan dari AMP ke lokasi juga disorot. Jarak tempuh, lama perjalanan, dan pengendalian temperatur saat pengangkutan sangat memengaruhi mutu campuran saat dihampar.
“Kalau alasan pekerjaan dilakukan malam hari karena siang hari macet, kami bisa memahami. Tetapi pertanyaannya, apakah metode kerja malam hari mampu menjamin kualitas hotmix tetap sama? Jangan sampai lalu lintas tidak macet, tetapi kualitas jalan yang dikorbankan,” tegasnya.
ANCAMAN AIR HUJAN MASUK KE RONGGA
WGMPA juga menyoroti adanya rongga pada permukaan hotmix. Menurut Yansen, persoalannya bukan hanya soal estetika, tetapi daya tahan jalan saat diguyur hujan.
“Jangan hanya melihat jalan sudah tertutup aspal lalu dianggap selesai. Yang harus dilihat adalah bagaimana mutu pekerjaan itu dipertanggungjawabkan. Kalau permukaannya kasar dan rongganya terlihat, bagaimana nanti ketika hujan turun? Air akan berhadapan dengan permukaan jalan tersebut setiap hari,” katanya.
Secara teknis, air yang masuk melalui pori atau rongga pada lapisan perkerasan dapat mempercepat kerusakan jalan apabila kepadatan dan karakteristik campuran tidak memenuhi persyaratan.
PERNYATAAN DEDI MULYADI KEMBALI RELEVAN
Kondisi ini mengingatkan pada pernyataan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Dalam pemberitaan http://Kompas.com 27 Oktober 2025, Dedi menyebut pengaspalan malam hari rawan kesalahan teknis karena suhu udara dan kelembapan tidak ideal.
“Pernyataan Pak Dedi Mulyadi soal pengaspalan malam hari sekarang menjadi relevan untuk kita lihat kembali. Bukan berarti setiap pekerjaan malam pasti buruk. Tetapi ketika ada hasil pekerjaan yang secara visual tampak kasar dan berongga, tentu kekhawatiran mengenai temperatur, kelembapan dan proses pemadatan perlu dijawab secara teknis,” ujar Yansen.
Ia juga menyoroti perbedaan hasil antara Kopo–Bihbul yang dikerjakan malam hari dengan Jalan Raya Soreang yang dikerjakan siang hari.
“Kami melihat secara kasatmata ada perbedaan. Di Soreang permukaannya terlihat lebih rapi, sedangkan di Kopo–Bihbul tampak lebih kasar dan berongga. Kalau proyek dan pelaksananya masih berkaitan, tentu publik berhak mempertanyakan mengapa hasilnya berbeda,” katanya.
Yansen menegaskan perbedaan visual belum bisa jadi bukti langsung bahwa kerja malam penyebabnya. Namun kondisi ini cukup menjadi dasar untuk mempertanyakan metode penghamparan, suhu material, proses pemadatan, gradasi agregat, komposisi campuran, dan pengawasan.
*WGMPA DORONG KLARIFIKASI TERTULIS*
WGMPA akan mendorong klarifikasi tertulis kepada pelaksana, konsultan supervisi, dan DBMPR Jabar.
“Kami meminta pihak pelaksana, konsultan supervisi dan instansi terkait memberikan penjelasan secara terbuka. Jangan sampai masyarakat hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui bagaimana proses pengendalian mutunya,” kata Yansen.
“Ini uang rakyat. Nilainya lebih dari Rp11 miliar. Masyarakat berhak mendapatkan jalan yang bukan hanya selesai dikerjakan, tetapi juga memiliki mutu yang baik dan dapat bertahan menghadapi hujan serta beban kendaraan,” pungkas Yansen Nababan.
DATA PROYEK
Proyek: Rekonstruksi Jalan Kopo–Bihbul s.d Desa Sayati, Margahayu
Nilai Kontrak: Rp11.394.632.656,42
Sumber Dana: APBD Provinsi Jabar TA 2026
Pelaksana: CV. Nawasena Parikesit Perkasa
Pengawas: DBMPR Jabar UPTD Wilayah III
Konsultan: PT. Secon Dwitunggal Putra KSO dan PT. Nusa Karya Pembangunan
(Red)






