
Garut, Sinar Surya – Tuhan selalu meciptakan segala sesuatunya indah. Begitu pun dengan kondisi dan keadaan manusia. Sekalipun terkadang manusia lahir tanpa kesempurnaan fisik, pastilah ada rencana indah di balik itu semua, salah satunya anak berkebutuhan khusus (ABK).
Hanya dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian, mereka memperoleh kepercayaan dirinya.Salah satu sosok Rudi Sanjaya yang mengemban tugas dan amanat sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, sebagai kepala sekolah di SLB langit sunda, sekolah khusus bagi kaum difabel. Yang beralamat di Kp. Cinangka kulon RT. 04 RW. 02, Desa Sukamerang Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.
Awalnya Rudy Sanjaya merasa iba melihat anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga beliau berkeinginan untuk mendirikan sekolah khusus bagi anak yang kurang beruntung. Rasa empati dan peduli terhadap isu kemanusian telah mendorong untuk belajar bagi kaum difabel.dengan perniatan ingin mengubah paradigma (ABK) di kalangan masyarakat. Realita tersebut demi menjamin masa depan anak-anak penyandang disabelitas agar memiliki masa depan.
Menurutnya, untuk menjamin masa depan Anak Berkbutuhan Khusus (ABK), bukan hanya sebatas meningkatkan pengetahuan dan keterampilan saja, melainkan harus difasilitasi oleh pihak sekolah, pemerintah maupun oleh orang-orang yang peduli terhadap anak-anak penyandang disabelitas.
Untuk itu, saya tak henti selalu memikirkan nasib anak-anak penyandang disabelitas. Bagaimana masa depannya setelah mereka lulus sekolah. Di Sekolah Luar Biasa (SLB), sesungguhnya hanyalah bersifat pembelajaran. Kenyataan itu membikin kemelut hatiku selalu dirundung perasaan “gundah gulana”.
Pasalnya cara belajar untuk masing-masing anak berkebutuhan khusus tentu saja berbeda. Rudy menuturkan, masing-masing anak memiliki metode belajar sendiri. Seperti anak tuna netra, dia memiliki pembelajaran kekhususan yakni Orientasi dan Mobilitas atau (OM) untuk mengenal lingkungannya. Contohnya bagaimana si anak menuju pasar, mengenal mobil, membedakan antara suara bus, truk dan sepeda motor. Bagaimana orang berjalan, guru berjalan, hingga suara detak sepatu. Itu semua dipelajari dalam OM. Untuk tuna rungu ada Bina Persepsi Diri dan Irama, untuk mengenal irama. Karena hidup anak tuna rungu serba sepi. Tidak mendengar apapun. Maka dengan pembelajaran Bina Persepsi Diri ini, si anak harus mengenal ketukan, langkah kaki, juga saat upacara bendera, dia harus tahu suara jalan orang yang sedang melangkah dalam upacara. Sedangkan bagi anak tuna grahita, yang ditanamkan pada mereka adalah kegiatan aktivitas sehari-hari atau Activity Daily Learning (ADL).
“Bagaimana dia harus memakai baju, celana, kaos kaki, sepatu dan menyisir rambut. Bagi siswa yang sudah meningkat kepribadian dan tanggung jawabnya akan diberikan pelajaran khusus, seperti membuat kue atau memasukkan produk dalam kemasan,” ucapnya.
Harapan seorang Rudi Sanjaya yaitu melihat siswa-siswa mereka tumbuh besar dan bekerja secara mandiri. Sudah berkeluarga, memiliki anak, dan hidup seperti orang normal pada umumnya. Hal itu menjadi kenikmatan yang luar biasa dan tidak ada nilainya yang dirasakan olehnya.
Meskipun memiliki kekurangan fisik, siswa-siswi SLB tetap memiliki semangat yang menyala. Mereka dapat membuktikan bahwa ketidaksempurnaan fisik bukanlah alasan untuk menyerah. Mimpi dan cita-cita mereka tetap digantungkan setinggi langit. Dengan keyakinan yang teguh, mereka percaya bahwa mimpi itu tetap bisa mereka raih.
Semangat untuk menolong sesama dan memperhatikan kaum yang lemah haruslah tertanam dalam hati kita. Bukan saatnya lagi kita mengejek, menjauhi, dan meremehkan kaum difabel. Mereka tetaplah ciptaan Tuhan yang memiliki kedudukan yang sama seperti kita. (Yoyo Karya)












