Kades Cangkuang Wetan Bungkam Ketika Ditanya Terkait TPS3R, Diduga Kuat Beralih Fungsi, Serta Tidak Sesuai Dengan TPS3R Percontohan

Kab Bandung, Sinasuryanews.com – TPS3R Desa Cangkuang Wetan Dayeuhkolot tampak sangat kumuh, konon TPS3R menjadi percontohan terbaik se-Kabupaten Bandung yang diresmikan oleh Bupati Bandung pada tahun 2023, Ironinya, sangat berbanding terbalik, TPS3R tersebut digadang gadang bisa mengelola sampah 1 Ton/jam, fakta dilapangan TPS3R sangat kumuh, bahkan sempat tidak jalan, sehingga mesin pemisah sampah dan pembakarannya entah kemana, isunya ada yang menggeser atau mengambilnya akibat ada kesepakatan kedua belah pihak, Kamis (19/02). Pengelolah TPS3R sangat tidak memperhatikan lingkungan, sampah sisa pembakaran ditumpuk di pinggir anak sungai, jik musim penghujan tiba sampah tersebut akan langsung kesungai, pihak Dlh Kab. Bandung yang sering melakukan monitoring dan evaluasi seakan tutup mata

Perlu diketahui, TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle) adalah sistem pengelolaan sampah komunal berbasis masyarakat untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Fasilitas ini berfokus pada pemilahan, pengomposan organik, dan daur ulang anorganik, didukung oleh KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), sehingga sampah menyisakan residu untuk dibuang ke TPA.

Melihat langsung ke lokasi, bahwa TPS3R Desa Cangkuang Wetan beralih fungsi menjadi kandang ayam, dan kantornya pun tidak di huni menjadi tempat magot dan berbau khas kotoran ayam. Bahkan lingkungan sekitar tampak asal saja, banyak sampah dibakar secara semrawut di beberapa titik menimbulkan polusi udara dan bahkan mencemari lingkungan sekitar.

Menurut keterangan pengurus kandang ayam, yah ini benar bagian dari TPS3R kantornya sebelah, saat ini pindah geser kesana yang ada tumpukan sampah lagi dibakar, dari pada gak terpakai sempet gak jalan tps nya jadi buat kandang ayam, “ucapnya sambil bekerja urus ayamnya.

“Kandang ayam ini mah beda kepengurusan, ada lagi orangnya, kalau TPS3R ada pa tarlan dia sering di sana tempat pembakaran, jadi ini buat kandang ayam dan tempat pengumpulan rongsok sebelahnya, selebihnya yah lihat saja seperti itu, yah beda-beda memang yang urusnya.

Melihat langsung tempat pembakaran sampah yang cukup kumuh dan menambah juga penyumbang polusi udara karena masih memakai ineserator, sampah juga variasi basah dan kering yang masuk ke tungku untuk dibakar. Salah seorang pekerja mengatakan bahwa pengelola pa tarlan ada di kantor merah putih.

Menurut penjelasan pa tarlan, saya hanya sekretaris di TPS3R ini, ada ketuanya dulu namun vakum atau gak pernah masuk, jadi saya yang urus ini semua selaku penanggung jawab TPS3R. Saya urus semua pekerja sampah sampai penagihan, dulu memang di sebelah sana kantor dan semuanya termasuk pemilihan sampah, karena ada mesinnya.

Tarlan mempertegas, sempet jalan 3 tahun dan lalu berhenti saat itu masih lengkap semua termasuk mesinnya juga ada, namun entah kenapa mesin di tps3r tidak ada, saya juga tidak tahu, kalau mesin yang ini belakangan adanya, mesin yang di depan dulu bersama jadinya gedung itu, yang saat ini jadi kandang ayam, dan sebelahnya tempat rongsok, “ungkap tarlan.

Hal hasil, dari depan geser ke sini pak, yah sekarang kumpul disini sampahnya juga di tumpuk disini sekarang, di olah di bakar itu sama pekerja, saya juga yang bertanggung jawab semuanya operasional dan gaji mereka semua. Kadang saya juga bingung pak, gimana caranya ini sementara, gak ada yang dukung pak, “keluhnya.

Perlu diketahui, bahwa TPS3R itu lengkap dengan isinya untuk bisa operasional mengelola sampah lingkungan dan warga sekitar. Ratusan juta Anggaran Negara akan sia-sia jika TPS3R menjadi kandang ayam. Patut diduga ada pemain yang memanfaatkan anggaran negara di Desa Cangkuang Wetan Dayeuhkolot.

Tarlan juga menambahkan, Untuk biaya operasional,kami mengandalkan retribusi dari warga, dalam 1 bulan, hasil penarikan retribusi antara Rp25 juta sampai Rp30 juta, semuanya habis untuk membayar gaji para pekerja, kalau dari desa Cangkuang wetan tidak ada mengucurkan anggaran ke kami.

Tarlan juga sempat ditanya team media ini perihal sampah plastik, dijual kemana dan hasil penjualannya dikemanakan, Tarlan menjawab, “Saya tidak mengurusi hal itu, yang mengurusnya langsung istri Kades dan Bumdes, kalau lebih jelas, silahkan tanya Kades,” ujar Tarlan.

Kepala Desa Cangkuang Wetan Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd coba dikonfirmasi oleh media ini melalui Saluran WA di nomor +62 852-2008-2XXX, perihal pengelola TPS3R yang da di wilayahnya, tetapi sangat disayangkan,sampai berita ini diterbitkan, orang nomor 1 di desa Cangkuang Wetan tersebut lebih memilih bungkam dari pertanyaan media, ada apa ? (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *